Arsip untuk September, 2007

Croup Sindrom

Posted in Koas anak on September 21, 2007 by atTock

Sindroma  Croup

BATASAN

Sindroma ”croup” merupakan kumpulan gejala klinik yang ditandai dengan adanya batuk, suara parau, stridor inspiratoir yang disebabkan obstruksi saluran napas atas/laring.

 PATOFISIOLOGI

Adanya faktor infeksi (virus, bakteri, jamur), mekanis dan/atau alergi dapat menyebabkan terjadinya inflamasi, eritema dan edema pada laring dan trakea, sehingga mengganggu gerakan plica vocalis. Diameter saluran napas atas yang paling sempit adalah pada bagian trakea dibawah laring (subglottic trachea). Adanya spasme dan edema akan menimbulkan obstruksi saluran napas atas. Adanya obstruksi akan meningkatkan kecepatan dan turbulensi aliran udara yang lewat. Saat aliran udara ini melewati plica vocalis dan arytenoepiglottic folds, akan menggetarkan struktur tersebut sehingga akan terdengar stridor. Awalnya stridor bernada rendah (low pitched), keras dan terdengar saat inspirasi tetapi bila obstruksi semakin berat stridor akan terdengar lebih lemah, bernada tinggi (high pitched) dan terdengar juga saat ekspirasi. Edema pada plica vocalis akan mengakibatkan suara parau. Kelainan dapat berlanjut hingga mencapai brokus dan alveoli, sehingga terjadi laringotrakeobronkitis dan laringotrakeobronkopneumonitis.  Pada spasmodic croup  terjadi edema jaringan tanpa proses inflamasi. Reaksi yang terjadi
terutama disebabkan oleh reaksi alergi terhadap antigen virus dan bukan akibat langsung infeksi virus.     

 PENYEBAB SINDROMA CROUP

  •  INFEKSI : terbanyak infeksi virus

  • Bakteri :  Hemofilus influenza tipe B, Corynebacterium difteri

  • Virus    :  Para influenza 1,2,3; Infuenza; Adeno;Entero; RSV, morbilli

  • Jamur   : Candida albican                         

MEKANIK : 

o      Benda asing

o      Pasca pembedahan

o      Penekanan masa ekstrinsik

ALERGI : Sembab angioneurotik

GEJALA KLINIS SINDROMA CROUP

Gejala klinis awali dengan  suara serak, batuk menggonggong dan stridor inspiratoir. Bila terjadi  obstruksi stridor akan makin berat tetapi dalam kondisi yang sudah payah stridor melemah. Dalam waktu 12-48 jam sudah terjadi gejala obstruksi saluran napas atas. Pada
beberapa kasus hanya didapati suara serak dan batuk menggonggong, tanpa obstruksi napas. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 3 sampai 7 hari. Pada kasus lain terjadi obstruksi napas yang makin berat, ditandai dengan takipneu, takikardia, sianosis dan pernapasan cuping hidung. Pada pemeriksaan toraks dapat ditemukan adanya retraksi supraklavikular, suprasternal, interkostal, epigastrial. Bila anak mengalami hipoksia, anak akan tampak  gelisah, tetapi jika hipoksia bertambah berat anak tampak diam, lemas,  kesadaran menurun. Pada kondisi yang berat dapat menjadi gagal napas. Pada kasus yang berat proses penyembuhan terjadi setelah 7-14 hari.

 EPIGLOTITIS AKUT

Epiglotitis akut merupakan keadaan gawat darurat sehingga diagnosa harus ditegakkan secepat mungkin. Terapi harus dilakukan secara cepat dan tepat agar dapat menurunkan kematian.

Definisi keradangan akut epiglotis, biasa disebabkan oleh bakteri (bacterial croup, supraglottic croup)

Etiologi : terbanyak disebabkan Haemophylus Influenza tipe B

Umur               : menyerang terbanyak pada kelompok usia 3-7 tahun

Gejala klinis :

  • mendadak panas tinggi

  • stridor inspiratoir , retraksi cepat timbul

  • nyeri epiglotis : suara kecil (pelan)

  • anak tampak sakit keras/toksis, air liur keluar berlebihan (drooling), gelisah & sianosis

  • epiglotis bengkak dan merah seperti buah cherry

  • dapat cepat : gagal napas

Pemeriksaan penunjang : foto leher lateral: dapat terlihat obstruksi supraglotis karena pembengkakan epigloti(thumb sign)

laboratorium : pemeriksaan darah menunjukkan lekosit meningkat, pada hitung jenis tampak pergeseran ke kiri.

Bila fasilitas tersedia : dari pemeriksaan hapusan tenggorokan dan biakan darah dapat ditemukan Haemophylus Influenza tipe B.

Penatalaksanaan : MRS di ICU

Pemberian oksigenasi

Pemberian cairan intravena disesuaikan berat badan dan status hidrasi.

Pemberian inhalasi salin normal.

Pemilihan antibiotik :

o      Ampisilin 100 mg/kgBB/hari, intravena, terbagi 4 dosis

o      Kloramfenikol : 50 mg/kgBB/hari, intra vena, terbagi dalam 4 dosis

o      Sefalosporin Generasi 3 (Cefotaksim atau Ceftriakson)

Bila panas dapat diberikan antipiretik

Seringkali memerlukan tindakan trakeostomi

 

LARINGITIS AKUT A/LARINGOTRAKEO BRONKITIS AKUT A

Definisi    :
Keradangan pada laring/ laring-trakea-bronkus

Etiologi    : penyebab terbanyak adalah virus (Para influenza, Influenza, Adeno, RSV, Morbili)

Umur        : menyerang terutama pada kelompok umur 3 bulan-5 tahun

Gejala klinis Laringitis akut :

Sering pada anak, biasanya ringan

Selalu didahului infeksi saluran nafas atas

Gejala klinis : panas, pilek,batuk 2-3 hari, mendadak suara parau, batuk menggonggong, stridor inspiratoir, pemeriksaan faring tampak hiperemi

Kesukaran napas  yang terjadi tidak berat

Gejala klinis Laringotrakeobronkitis akut :

 Dapat terjadi infeksi sekunder karena bakteri

Kesukaran bernapas yang terjadi lebih berat

Anak dapat mengalami panas tinggi

Pada pemeriksaan fisis didapatkan tanda-tanda bronkitis

Diagnosis Laringitis akut/Laringotrakeo bronkitis akut :

Berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis

Ditunjang beberapa pemeriksaan tambahan :

o      Foto rontgen leher AP : bisa tampak pembengkakan jaringan subglotis (Steeple sign). Tanda ini ditemukan pada 50% kasus

o      Pemeriksaan laboratorium : gambaran darah dapat normal, jika disertai infeksi sekunder leukosit dapat meningkat.

Penatalaksanaan Laringitis Akut/Laringotrakeo bronkitis akut :

Umumnya tidak perlu MRS

Indikasi MRS :

   –    usia dibawah satu tahun

-         tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau exhausted

-         tampak retraksi suprasternal,  atau retraksi subcostal

-         diagnosis tidak jelas

-         perawatan di rumah kurang memadai

Pada Laringotrakeo bronkitis akut dapat diberikan antibiotik (Ampisilin dan/atau Kloramfenikol)

Diberikan inhalasi dengan salin normal; bila tersedia dapat menggunakan racemic epinefrin inhalasi

Dapat diberikan antipiretika bila perlu

Pada anak yang tampak sakit berat :

o      Anak harus menjalani rawat inap

o      Pemberian oksigenasi

o      Pemberian inhalasi: salin normal

o      Pemberian cairan dan kalori intravena disesuaikan dengan berat badan dan status hidrasi

o      Antibiotik diberikan secara intravena

o      Dapat diberikan kortikosteroid intravena berupa deksametason dengan dosis 0,5 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis, diberikan selama 1-2 hari

o      Jarang memerlukan tindakan trakeostomi

 

SPASMODIC LARYNGITIS (ALLERGIC CROUP, PSEUDO CROUP)

Etiologi           : Virus, faktor alergi dan faktor psikologis

Umur               : menyerang terbanyak pada kelompok usia 1-3 tahun

Gejala klinis   :

o      Dapat terjadi pilek/serak atau tanpa pilek/serak.

o      Pada malam hari batuk menggonggong, stridor inspirasi, anak gelisah, tanpa disertai panas

o      Gejala pada pagi hari akan berkurang, malam menghebat berulang-ulang

o      Ada predisposisi dalam keluarga

Diagnosis :

Ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan laboratorium tidak didapatkan kelainan.

Penatalaksanaan

o      Tidak diperlukan rawat inap dan pemberian antibiotik.

o      Pemberian nebuliser Setelah anak muntah, umumnya laringospasme akan menghilang.

      

Bronkiolitis

Posted in Koas anak on September 21, 2007 by atTock

Bronkiolitis

BATASAN

Bronkiolitis adalah penyakit obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran nafas kecil (bronkiolus) yang terjadi pada anak < 2 tahun dengan insidens tertinggi pada usia sekitar 2-6 bulan dengan penyebab tersering respiratory sincytial virus (RSV), diikuti dengan parainfluenzae dan adenovirus. Penyakit ditandai oleh sindrom klinik yaitu, napas cepat, retraksi dada dan wheezing.

PATOFISIOLOGI

Mikroorganisme masuk melalui droplet akan mengadakan kolonisasi dan replikasi di mukosa bronkioli terutama pada terminal bronkiolus sehingga akan terjadi kerusakan/nekrosis sel-sel bersilia pada bronkioli. Respon imun tubuh yang terjadi ditandai dengan proliferasi limfosit, sel plasma dan makrofag. Akibat dari proses tersebut akan terjadi edema sub mukosa, kongesti serta penumpukan debris dan mukus (plugging), sehingga akan terjadi penyempitan lumen bronkioli. Penyempitan ini mempunyai distribusi tersebar dengan derajat yang bervariasi (total/sebagian). Gambaran yang  terjadi adalah atelektasis yang tersebar dan distensi yang berlebihan (hyperaerated) sehingga dapat terjadi gangguan pertukaran gas serius, gangguan ventilasi/perfusi  dengan akibat akan terjadi hipoksemia (PaO2 turun) dan hiperkapnea (Pa CO2 meningkat). Kondisi yang berat dapat terjadi gagal nafas.

DIAGNOSIS

Anamnesis

Anak usia di bawah 2 tahun dengan didahului infeksi saluran nafas akut bagian atas dengan gejala batuk, pilek, biasanya tanpa demam atau hanya subfebris. Sesak nafas makin hebat dengan nafas dangkal dan cepat.

Pemeriksaan fisis

Dapat dijumpai demam, dispne dengan expiratory effort dan retraksi. Nafas cepat dangkal disertai dengan nafas cuping hidung, sianosis sekitar hidung dan mulut, gelisah. Terdengar ekspirium memanjang atau mengi (wheezing). Pada auskultasi paru dapat terdengar ronki basah halus nyaring pada akhir atau awal inspirasi. Suara perkusi paru hipersonor. Jika obstruksi hebat suara nafas nyaris tidak terdengar, napas cepat dangkal, wheezing  berkurang bahkan hilang.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan darah tepi tidak khas. Pada pemeriksaan foto dada AP dan lateral dapat terlihat gambaran hiperinflasi paru (emfisema) dengan diameter anteroposterior membesar pada foto lateral serta dapat terlihat bercak konsolidasi yang tersebar. Analisis gas darah dapat menunjukan hiperkarbia sebagai tanda air trapping, asidosis respiratorik atau metabolik. Bila tersedia, pemeriksaan deteksi cepat dengan antigen RSV dapat dikerjakan.

DIAGNOSIS BANDING

  • Asma bronkial

  • Aspirasi benda asing

  • Bronkopneumonia

  • Gagal jantung

  • Miokarditis

  • Fibrosis Kistik

TATALAKSANA

Tata laksana bronkiolitis yang dianjurkan adalah :

  1. Pemberian oksigenasi; dapat diberikan oksigen nasal atau masker, monitor dengan pulse oxymetry. Bila ada tanda gagal nafas diberikan bantuan ventilasi mekanik.

  2. Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila perlu dapat dengan cairan parenteral). Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu dan status hidrasi.

  3. Koreksi terhadap kelainan asam basa dan elektrolit yang mungkin timbul.

  4. Antibiotik dapat diberikan pada keadan umum yang kurang baik, curiga infeksi sekunder (pneumonia) atau pada penyakit yang berat.

  5. Kortikosteroid : deksametason 0,5 mg/kgBB dilanjutkan dengan 0,5 mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis.

  6. Dapat diberikan nebulasi β agonis (salbutamol 0,1mg/kgBB/dosis, 4-6 x/hari) diencerkan dengan salin normal untuk memperbaiki kebersihan mukosilier.

Untuk menilai kegawatan penderita dapat dipakai skor Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI), yang menilai distres napas berdasarkan 2 variabel respirasi yaitu wheezing dan retraksi. Bila skor lebih dari 15 dimasukkan kategori berat, bila skor kurang 3 dimasukkan dalam kategori ringan.