Pasien Skizofrenia Tak Miliki Gelombang Gama

Penyakit skizofrenia memang masih kurang populer di kalangan masyarakat awam. Tapi gangguan kejiwaan ini sudah mulai mencemaskan sebab hingga saat ini masih belum ditemukan terapi yang cukup manjur untuk menyembuhkannya. Ada kabar baik dari Inggris. Ahli neurologi dari negeri tersebut baru saja menemukan pemicu dari munculnya gejala skizofrenia.Pada para penderita skizofrenia diketahui bahwa sel-sel dalam otak yang berfungsi sebagai penukar informasi mengenai lingkungan dan bentuk impresi mental jauh lebih tidak aktif dibanding orang normal. Temuan ini bisa menjabarkan dan membantu pengobatan munculnya halunisasi dan gangguan pemikiran pasien skizofrenia, demikian menurut tim dari Harvard Medical School.Studi yang muncul pada jurnal terbaru Proceedings of the National Academy of Sciences ini didasarkan atas analisis terhadap pola gelombang 20 orang penderita skizofrenia dan 20 orang sukarelawan sehat. Para partisipan tersebut ditanyai mengenai dua gambar yang mengandung empat figur Pacman, yakni lingkaran dengan bagian yang seperempatnya hilang. Pada satu gambar empat bentuk disusun secara optis menyerupai lingkaran di tengah. Para partisipan ditanyai dengan menjawab cukup menekan tombol apakah mereka melihat lingkaran atau tidak.

Gelombang Gama Pada saat yang sama para ilmuwan memonitor gelombang otak partisipan dengan menggunakan electroencephalogram (EEG) yang bisa memberi informasi aktivitas elektrik otak. Kedua kelompok memberi respons terhadap gambar-gambar tersebut selama satu detik saja. Namun mereka yang menderita skizofrenia membuat lebih banyak kesalahan dan membutuhkan waktu lebih banyak 200 milidetik dibanding yang sehat.Ketika para ilmuwan mengamati pola gelombang otak, mereka menemukan bahwa pasien skizofrenia memperlihatkan tidak adanya aktivitas pasti dalam gelombang otaknya ketika menekan tombol-tombol jawaban. Sementara partisipan yang sehat memiliki aktivitas gelombang gama yang bisa menjadi identifikasi bahwa otak mereka memproses informasi visual sebagai petunjuk responsnya. ”Ada perbedaan yang sangat dramatis. Para penderita skizofrenia tidak memperlihatkan respons gama sama sekali,” komentar Dr. Robert McCarley si pemimpin studi seperti yang dikutip BBC News Online baru-baru ini.Jika komunikasi yang paling efisien terjadi pada gelombang 40 hertz, maka penderita skizofrenia menggunakan frekuensi yang jauh lebih rendah. Ini sama saja artinya dengan mereka tidak mempunyai proses komunikasi yang efektif pada sel penukar informasi dan bagian otaknya. Sebagai perbandingan, gelombang delta pada otak bekerja di bawah frekuensi 4 herts ketika manusia tidur. Gelombang alpha antara 8-13 hertz saat manusia dalam kondisi santai. Gelombang beta antara 13-30 hertz pada saat kita berpikir aktif. Dan gelombang gama antara 30-100 hertz saat kita melakukan aktivitas mental yang berat.Dengan temuan ini maka kemungkinan obat yang bisa memicu respons gelombang gama bisa menolong pasien skizofrenia. ”Apabila kita mengetahui ciri kimia otak yang bisa mengenali kegiatan neuron yang terkait dalam produksi aktivitas gama, maka kita bisa mencoba target pengobatan berikutnya,” lanjut McCarley.

Halunisasi
Marjorie Wallace, pimpinan eksekutif yayasan skizofrenia SANE, London, berkomenrar bahwa studi ini bisa membawa harapan baru bagi sekian banyak penderita skizofrenia di dunia. Studi terbaru ini agaknya nyaris sepakat dengan buku The Broken Brain: The Biological Revolution in Psychiatry yang ditulis oleh Dr. Nancy Andreasen. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa bukti-bukti terkini tentang serangan skizofrenia merupakan suatu hal yang melibatkan banyak sekali faktor. Faktor-faktor itu meliputi perubahan struktur fisik otak, perubahan struktur kimia otak, dan faktor genetik.Di dalam otak terdapat miliaran sambungan sel. Setiap sambungan sel menjadi tempat untuk meneruskan maupun menerima pesan dari sambungan sel yang lain. Sambungan sel tersebut melepaskan zat kimia yang disebut neurotransmitters yang membawa pesan dari ujung sambungan sel yang satu ke ujung sambungan sel yang lain. Di dalam otak penderita skizofrenia, terdapat kesalahan atau kerusakan pada sistem komunikasi tersebut.Ada sejumlah gejala di mana seseorang mengidap skizofrenia, penyakit yang kadang tak dikenali oleh awam. Biasanya mereka mengalami halunisasi. Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterpretasikan dan merespons pesan atau rangsangan yang datang. Penderita skizofrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Auditory hallucinations, gejala yang biasanya timbul, yaitu penderita merasakan ada suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu dirasakan menyejukkan hati, memberi kedamaian, tapi kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, seperti bunuh diri.Gejala lain adalah menyesatkan pikiran alias delusi, yakni kepercayaan yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang berlawanan dengan kenyataan. Misalnya, pada penderita skizofrenia, lampu lalu lintas di jalan raya yang berwarna merah kuning hijau, dianggap sebagai suatu isyarat dari luar angkasa. Beberapa penderita skizofrenia berubah menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamat-amati, diintai, atau hendak diserang.Kegagalan berpikir mengarah kepada masalah di mana penderita skizofrenia tidak mampu memproses dan mengatur pikirannya. Kebanyakan penderita tidak mampu memahami hubungan antara kenyataan dan logika. Karena penderita skizofrenia tidak mampu mengatur pikirannya membuat mereka berbicara secara serampangan dan tidak bisa ditangkap secara logika. Ketidakmampuan dalam berpikir mengakibatkan ketidakmampuan mengendalikan emosi dan perasaan. Hasilnya, kadang penderita skizofrenia tertawa sendiri atau berbicara sendiri dengan keras tanpa mempedulikan sekelilingnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: