Gangguan Depresif

 

Setiap tahap perubahan dalam perjalanan hidup manusia senantiasa mendatangkan perasaan tegang atau stres dalam jiwa manusia. Isi perasaan tegang itu tidak saja rasa gembira karena mendapatkan suatu keadaan atau benda yang sejak lama telah diidamkan atau yang sama sekali tidak dinyana, baik yang menggembirakan atau sebaliknya. Perasaan tegang juga timbul karena kecewa mengalami situasi yang sama sekali tak diduga dan tak diharapkan terjadi dalam hidupnya. Ketegangan Jiwa.

 

Seringkali kita sebagai seorang sahabat mudah sekali memberi dukungan moril dan memberi nasehat agar bersabar kepada rekan yang sedang menderita dukacita, atau bahkan mengucapkan selamat kepada suatu sukses yang baru saja diraihnya. Tapi bagi seseorang yang mengalami sendiri dengan seluruh perasaannya peristiwa perubahan tersebut, tidaklah sederhana proses kejiwaan yang terjadi. Sebagai contoh peristiwa yang tidak kecil pengaruhnya kepada proses kejiwaan seseorang antara lain disebutkan mulai peristiwa pindah rumah, perkawinan, perceraian, kematian orang disayangi sampai mendapat promosi jabatan dalam karir baik yang telah diperkirakan apalagi yang tidak diduga atau tak diharapkan. Perasaan gembira dan sedih tertekan (depresif) merupakan ketegangan jiwa yang sama dampaknya menjadikan jiwa manusia bergolak gelombang tidak tenteram seperti sebelumnya satu sampai tiga bulan menurut para ahli. Secara perlahan pergolakan gelombang rasa suka dan duka itu bergulir mulai gelombang kecil sederhana sampai membesar kemudian melandai dan akhirnya mendatar kembali mencapai ketenangan. Manifestasi klinisnya mulai dari seluruh perhatian tersedot kepada peristiwa baru, mengurang perhatian kepada subjek lain, gangguan kualitas kinerja sampai mengalami kondisi tidak bisa istirahat, gelisah, dan tidak dapat tidur pada malam hari.

 

Depresif
Gangguan suasana perasaan depresif atau Episode Depresif dulu dikenal sebagai Neurosa depresif, disebut juga gangguan distimik, berada dalam kelompok gangguan suasana perasaan (mood/afektif).

 

 

 

Gambaran utama
Merupakan suatu gangguan suasana perasaan (mood) yang menahun mencakup terdapatnya gangguan alam perasaan yang depressif (tertekan), hilangnya minat atau rasa senang dalam semua segi kegiatan kehidupan, termasuk lenyapnya semangat melakukan semua aktifitas yang disenangi dalam waktu senggangnya. Kondisi gangguan ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu.
Kriteria Diagnostik

 

 

 

  1. Selama dua tahun terakhir (satu tahun untuk anak remaja) terganggu hampir seluruh waktunya oleh gejala khas sindroma depresi, tapi tidak termasuk klasifikasi depresi berat (psikosis/gangguan afektif berat).
  2. Manifestasi gejala depresi dapat menetap atau muncul-hilang yang diselingi suasana alam perasaan normal untuk individu yang hanya berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu saja. Lama episode kambuh tidak lebih dari satu bulan.
  3. Selama episode depresi terdapat gejala alam perasaan (mood) yang sedih, murung, merasa kehilangan semangat, merasa seperti jatuh dalam kesedihan, merasa amat rendah diri. Hilangnya minat dan rasa senang & gembira secara nyata dalam semua kegiatan hidupnya, dan yang biasanya dengan dilakukan dengan gembira mengisi waktu senggangnya.
  4. Selama periode depresif terdapat sekurang-kurangnya 3 (tiga) gejala dari 13 gejala berikut:
  • Insomnia/tidak bisa tidur atau bahkan hypersomnia/tidur berlebihan
  • Perasaan letih lesu atau mengeluhkan rasa gangguan dan nyeri fisik secara menahun dan beraneka ragam.
  • Perasaan kurang/tidak mampu melakukan kegiatan apa saja, merasa rendah diri, mencela diri sendiri
  • Aktivitas dan produktivitas menurun ditempat bekerja, disekolah, dirumah.
  • Konsentrasi pemikiran menurun, daya simpan memory merosot, perhatian tidak tajam, kemampuan berpikir jernih lenyap.
  • Menarik diri dari pergaulan sosial kemasyarakatan.
  • Hilang minat dan kemampuan memanfaatkan waktu senggang untuk menikmati hal-hal yang biasanya disenanginya.
  • Irritabilitas / mudah meledak rasa marah yang berlebihan dengan faktor pencetus yang kecil saja, yang biasanya dilampiaskan kepada orang tua atau pengasuh (kasus anak), /orang terdekat disekitarnya.
  • Tidak mampu menghayati pujian, penghargaan dengan perasaan senang yang sewajarnya.
  • Merosot dorongan berbicara, membicarakan masalah dirinya atau masalah lain, merasa diri lamban atau malah disertai rasa kegelisahan.
  • Sikap jiwa pesimis terhadap masa depannya, menyesali berulang ulang peristiwa/kegiatan masa lampau yang telah dikerjakannya, merasa kasihan berlebihan terhadap diri sendiri atau orang lain.
  • Mudah sekali menangis, air mata berlinang ketika sedang membicarakan sesuatu hal/kejadian/kegiatan/pengalaman-nya dimasa lampau.
  • Pikiran berulang tentang kematian dirinya dengan segala akibat terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau muncul gagasan bunuh diri (suicide) dengan alasan dirinya hanya menjadi beban orang lain, atau bahkan muncul ide membunuh keluarga dekatnya sebelum bunuh diri sendiri dengan alasan agar keluarga dekat itu tidak mengalami kesulitan hidup kelak jika dirinya sudah tak ada lagi (homicide).
  • Tidak terdapat ciri psikotik seperti waham, hallusinasi, inkoherensi, atau assosiasi longgar
  • Jika gangguan itu bertumpang tindih dengan gangguan mental sudah ada sebelumnya seperti gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessif Compulsif Disorder/OCD) atau ketergantungan Alkohol, manifestasi gejala depresi itu dapat dibedakan dengan jelas dari gambaran afek / alam perasaan sebelumnya, berdasar pada intensitas manifestasi depresi dan pengaruhnya pada kemampuan menjalankan fungsi sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambaran Penyerta
Berkaitan dengan faktor usia, manifestasinya mirip dengan gejala gangguan episode depresi berat dengan perkecualian tidak ditemukan gejala waham dan hallusinasi. Gangguan kepribadian sering kali terdapat sebagai latar belakang gangguan ini, biasanya gangguan kepribadian siklotimik (mudah sekali merasa sangat sedih mendalam, tapi secara berperiodik bangkit kembali menjadi perasaan yang amat eforia, oleh faktor yang kecil saja).
Usia Timbul
Bemula sejak awal usia dewasa, yang sering menampilkan corak kepribadian depresif. Dapat bermula pada tahap usia anak dan remaja, usia lanjut, dan setelah mengidap gangguan afektif depresif berat. Perjalanan penyakit diawali oleh fase yang tidak jelas dikenali oleh pasien maupun keluarganya, yang biasanya berlangsung perlahan dan menahun.

Hambatan Kinerja dan Komplikasi
Terjadi hambatan dalam hubungan sosial dan fungsi pekerjaan dalam tahap ringan atau sedang, sesuai dengan kronisitas gangguannya bukan sebab beratnya gejala episode depresinya. Perawatan inap dirumah sakit jarang diperlukan, kecuali kuat sekali ide dan tentamen suicide, atau bertumpang tindih dengan gangguan afektif depresif berat. Karena sifat gangguan yang menahun itu pengidap memiliki resiko terpancing menjadi penyalahguna zat adiktif. Pada anak dan remaja terjadi gangguan interaksi personal dan sosial dengan teman sebaya dan orang dewasa. Anak penyandang neurosa depresi cenderung bereaksi bersifat negatif terhadap penghargaan, pujian, terhadap hubungan positif dengan sesama anggota kelompok masyarakat, yang bermanifestasi sebagai ledakan rasa marah jengkel yang tidak sewajarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam jangka lama akan berdampak pada kemajuan, prestasi akademik, relasi sosial dan pekerjaan, terutama jika tidak dikelola dengan baik dan kontinu.
Faktor Predisposisi
Adanya gangguan fisik yang kronik, adanya gangguan mental lain seperti gangguan kepribadian atau gangguan afektif yang tidak sembuh sempurna. Pada anak dan remaja yang menjadi faktor predisposisi adalah adanya Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Hyperactivity Disorder/ADHD), Gangguan tingkah laku (Conduct disorder), Retardasi Mental, Gangguan perkembangan spesifik berat (berbahasa, membaca, berhitung, perkembangan motorik spesifik, gangguan perkembangan artikulasi), lingkungan yang tak adekwat, adanya penolakan kehadiran anak dalam keluarga dengan kondisi khususnya baik terselubung maupun terang-terangan. Lebih banyak ditemukan dikalangan wanita dewasa. Dikalangan anak, sama banyak pria dan wanita.

Penyebab
Penyebab gangguan neurosa depresi tidak diketahui dengan pasti. Etiologi secara hipotetis diperbincangkan antara lain karena factor gangguan biologik (termasuk faktor genetik) dan faktor psiko-sosial.

Faktor Biologik
Diduga kuat bahwa norepinephrine dan serotonin adalah dua jenis neurotransmitter yang bertanggung jawab mengendalikan patofisiologi ganguan alam perasaan pada manusia. Pada binatang percobaan. Pemberian antidepressant dalam waktu sekurang kurangnya dua sampai tiga minggu, berkaitan dengan melambatnya penurunan sensitifitas pada receptor post synaptic beta adrenergic dan 5HT2. Temuan terakhir penelitian biogenic amine menunjukkan dukungan terhadap hipotesa bahwa pada gangguan alam perasaan (mood) pada umumnya, khususnya episode depresif terjadi kekacauan regulasi norepinephrine dan serotonin dijaringan otak yang dapat dikoreksi oleh zat antidepressant dalam jangka waktu dua sampai tiga minggu.
Data imaging jaringan otak yang didapat dari CT scanning, pada penderitra gangguan depresi terdapat pembesaran ventrikel otak. Pada positron emisi tomografi (PET) didapatkan bukti penurunan metabolisme diotak. Studi lain menyebutkan terjadi penurunan aliran darah pada gangguan depresi terutama di basal ganglia. Dengan mengkombinasikan data dan gejala gangguan klinis depresi dan hasil riset biologik telah mendukung hipotesa bahwa gangguan depresi melibatkan keadaan patologi di limbic sistem, basal ganglia, dan hipothalamus. Perlu dicatat bahwa terjadinya gangguan neurologik pada basal ganglia dan limbic sistem (terutama cacat exitasi pada belahan yang tak dominan) selalu disertai adanya gejala gangguan depresi. Limbic sistem dan basal ganglia berhubungan sangat erat, hipotesa sekarang menyebutkan produksi alam perasaan berupa emosi depresi dan mania merupakan peranan utama limbic sistem. Disfungsi hipothalamus berakibat perobahan regulasi tidur, selera makan, dorongan seksual dan memacu perobahan biologi dalam bidang endocrine dan imunologik.

Masalah genetik
Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) baik tipe bipolar (adanya episode manik dan depresi) dan tipe unipolar (hanya depresi saja) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya, berdasar etiologi biologik. Gangguan bipolar lebih kuat menurun ketimbang unipolar. 50% pasien bipolar mimiliki satu orangtua dengan gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan.

Psikososial
Peristiwa traumatic kehidupan dan lingkungan sosial dengan suasana yang menegangkan dapat menjadi kausa gangguan neurosa depresi. Sejumlah data yang kuat menunjukkan kehilangan orangtua sebelum usia 11 tahun dan kehilangan pasangan hidup harmoni dapat memacu serangan awal gangguan neurosa depresi.

 

 

 

 

 

 

 

Manajemen Klinis
Pasien depresif harus dinilai dengan cermat aspek resiko tinggi seperti kemingkinan melakukan suicide (bunuh diri), homicide (membunuh orang lain sebelum bunuh diri), tak mau makan, kendali kegiatan hidup minimal seharian, yang akan sampai kepada sikap dokter mengklasifikasikan pasien tergolong gangguan/episode yang berat, beresiko tinggi membahayakan dirinya dan orang lain, apakah akan dirawat inap atau rawat jalan saja. Depresi ringan tanpa resiko tinggi, tentu cukup rawat jalan.

Antidepresant
Serangan akut depresi merupakan kondisi yang dengan sukses ditanggulangi 70-80 persen. Dalam pemberian obat pada pasien perlu diingat bahwa depresi adalah proses akibat fenomena biologik dan psikososial, keduanya tetap mendapatkan manfaat besar dengan pemberian obat antidepresant. Kepada pasien perlu diingatkan bahwa untuk mendapatkan efek yang baik dari obat antidepressant diperlukan penggunaan obat lebih dahulu selama 3-4 minggu, termasuk juga untuk menetapkan suatu obat antidepressant tidak sesuai bagi pasien tertentu. Sangat bijaksana menjelaskan kepada pasien efek samping yang akan dialami pengguna obat tertentu tapi hal yang sekaligus merupakan bukti bahwa obat itu sedang sedang bekerja dalam tubuh, dan tak perlu cepat dihentikan penggunaannya tanpa saran dokter. Pasien perlu faham bahwa dampak bagus obat adalah gejala perbaikan pertama yang terlihat berupa perbaikan tidur, timbulnya selesa makan, yang disusul dengan bangkitnya rasa bertenaga. Sedangkan perasaan depresi merupakan gejala yang paling akhir hilangnya. Perhatikan sejarah penggunaan obat pada pasien dan keluarganya, untuk mewaspadai hal yang tak diingini. Jika tak ada kontraindikasi maka dapat digunakan sebagai salah satu pilihan adalah golongan heterocyclic antidepressant yang diwakili oleh tricyclyc antidepressant.

Tricyclic antidepressant (TCA)
Alasan pemilihan tricyclic antidepressant adalah profile efeknya terutama karena tidak memiliki efek sedasi. Pengobatan yang dapat dinilai hasilnya adalah pemberian tricyclic antidepressant sekurang-kurangnya empat minggu, lebih disukai enam minggu. Jika 6 minggu tak terdapat perobahan yang bermakna perlu dipertimbangkan penggunaan antidepesaant kelompok lain seperti MonoAmino Oxydase Inhibitor (MAIO) atau Electroconvulsive therapy (ECT). Saat ini dipasar beredar beraneka ragam anti depressant yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan, dengan memperhatikan hasil riset anti depresant terakhir. Sediaan antidepressant yang dapat digunakan : (berdasarkan urutan abjad nama dagang)

  1. Amitriptyline HCl –> (TCA) Amitriptyline Tab. 25 mg, 50 mg, 75 mg, 100 mg, 150mg 75-200 mg, 2-3 x sehari 50-300 mg Indofarma.
  2. Fluoxetine HCl –> Antiprestin Cap. 10 mg, 20 mg 20-80mg 80 mg Pharos
  3. Amoxapine (MAOI) –> Asendin Tab. 100 mg 75-200 mg 300 mg Lederle
  4. Meclobemide –> Aurorix Tab. 150 mg 300-450 mg 450 mg Roche
  5. Citalopram –> Cipram Tab. 20 mg 10- 60 mg 60 mg Lundbeck
  6. Opipramol –> di HCl Insidon Tab. 50 mg 50-100 mg 100 mg Novartis
  7. Fluoxetine HCl –> Kalxetin Cap. 20 mg 20-80 mg 80 mg Kalbe Farma
  8. Maprotiline HCl –> Ludiomil Tab.10mg,25mg, 50mg,75mg 25-150mg 150mg Novartis
  9. Fluvoxamine maleate –> Luvox Tab.50mg 50-100mg 300mg Solvay Pharm
  10. Fluoxetine –> Nopres Tab.20mg 20-80mg 80mg Dexa Medica
  11. Fluoxetine HCl–> Prozac Cap.20mg 20-80mg 80mg Lilly
  12. Paroxetine HCl –> Seroxat Tab.20mg 10-50mg 50mg SmithKline Beechem
  13. Tianeptine –> Stablon Tab.25mg 25-75mg 75mg Servier
  14. Inipramine HCl –> Tofranil Tab.25mg 25-200mg 200mg Novartis
  15. Trazodone HCl –> Trazone Tab.50mg,100mg 50-400mg 400mg Kalbe/Angelini
  16. Sertraline HCl –> Zoloft Tab.50mg 50mg 200mg Pfizer

Kombinasi penggunaan tricyclic antidepressant (kecuali imipramine) dengan MAOI dengan pengawasan sangat hati-hati dapat dicoba dengan dosis awal keduanya rendah, perlahan dinaikkan. Meski mengandung kontroversi penggunaan ECT dianjurkan kalau diperlukan efek perbaikan lekas untuk menangkal resiko tinggi seperti suicide dan homicide.

Lithium

Garam Lithium (carbonate) merupakan antidepressant yang dianjurkan untuk gangguan depresi bipolar (terdapatnya episode depresi dan mania) dan penderita gangguan depresi. Lithium tidak bersifat sedative, depressant ataupun eforiant, inilah yang membedakannya dari antidepressant lain. Mekanis aksi lithium mengendalikan alam perasaan belum diketahui, diduga akibat efeknya sebagai membrana biologi. Sifat khas ion lithium dengan ukuran yang amat kecil tersebar melalui membrana biologik, berbeda dari ion Na dan K. Ion lithium menggantikan ion Na mendukung aksi potensial tunggal di sel saraf dan melestarikan membrana potensial itu. Masih belum jelas betul makna interaksi antara lithium (dengan konsentrasi 1 mEq per liter) dan transportasi monovalent atau divalent kation oleh sel saraf. Aksi lithium disusunan saraf pusat dispekulasikan sebagai merobah distribusi ion didalam sel susunan saraf pusat, perhatian terpusat pada efek konsentrasi ion nya yang rendah dalam metabolisme biogenic amine yang berperanan utama dalam patofisiologi gangguan alam perasaan.

Psikoterapi

Manajemen klinis dilakukan dengan mempertimbangkan faktor dominan kausa gangguan. Jika menonjol dampak aspek ledakan psikososial yang mengacaukan psikodinamik pasien, dilakukan psikoterapi. Jika tak yakin akan bermanfaat penanganan tunggal psikoterapi, dapat disertai pemberian farmakoterapi anti depresant.Banyak laporan menegaskan bahwa penanganan kombinasi dua tehnik psikoterapi dan farmakoterapi memberikan hasil lebih baik. Jangan Dianggap Enteng Setiap gejala depresif yang ditemukan pada seseorang, sebaiknya dokter yang dijumpai atau dimintakan nasehat mediknya, tidak menganggap enteng gangguan ini, apalagi tidak memikirkan untuk mengkonsultasikan kondisi pasien ini kepada pakar psikiatri. Yang memiliki kesadaran bahwa seseorang sangat mungkin mengidap gangguan depresif hanyalah dokter. Menjadi tanggung jawab profesional dokterlah memberikan pengertian kepada klien dan keluarganya, kondisi gangguan apa yang sedang dihadapi. Tak jarang disangkal oleh penderita dan keluarganya bahwa mereka sedang berhadapan dengan gangguan depresif, sampai terjadi percobaan dan tindakan suicide atau homicide.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: